Sepak bola dari Jakarta untuk Indonesia
- Feb 5, 2017
- 3 min read

Sang pejuang kecil ini bernama Muhammad Budiman dia adalah saya yang sudah dewasa ini....saya ingin bercerita sedikit dari bagian hidup saya di masa lalu, dimana masa-masa yang penuh dengan perjuangan hidup. masa dimana anak kecil itu hanya tugasnya belajar di bangku sekolah saja.
Ketika umur 16 tahun saya masuk sekolah bola MAESA dengan tabungan saya sendiri untuk biaya sekola selama disana, uang jajan saya selama SMP sekitar Rp10.000 untuk satu hari. setengah uang ini saya gunakan untuk menabung untuk kerperluan saya. sejak kecil saya sudah terbiasa untuk menabung untuk membeli sesuatu yang saya inginkan. entah apapun itu....
saya sekolah bola dengan sahabat kecil saya yang bernama Rafis, dari dia saya belajar tentang keberanian. dia selalu bilang kamu harus berani pergi sendiri dan jangan pernah kamu bergantung dengan seseorang....walau pun dia sudah tidak ada lagi...yah dia walau masih kecil tetapi dia sudah menjadi laki-laki yang pemberani, saya belajar banya dari dia. walau kini saya dan dia sudah jarang lagi bertemu....
Hari-hari yang saya tunggu setiap minggu adalah ketika waktu sekolah bola itu tiba, dari sini saya belajar banyak tetang keberanian, disiplin, kerjasama dan ketenangan. selama saya sekolah bola saya harus bagi waktu untuk sekola dan bola. jika waktu itu harus memilih saya akan memilih untuk menjadi pemain bola. tapi itu hanya sebuah harapan saja. karena hancurnya sepak bola nasional itu berdapak besar untuk saya dan anak-anak kecil di seluruh Indonesia.
lapangan sepak bola di jakarta satu-persatu hitang dan di hancurkan, seperti bom waktu yang perlahan akan meledak suatu saat nanti. lapangan menteng yang dulu adalah markas club PERSIJA adalah tempat sejarah untuk saya karena disana adalah tempat kami anak-anak sekolah bola sejakarta bertanding setiap minggu disana. ketika lapangan menteng di hancurkan sama juga dengan menghancurkan mimpi anak-anak di jakarta dan hancur sudah bagian sejarah sepak bola Jakarta. semejak itu saya sudah jarang latihan karena mimpi kecil itu sudah mati untuk saya.
Setiap latihan saya hanya bisa memedam impian mejadi pemain bola, tahun 2006 sebenarnya adalah tahun emas di usia 16 tahun saya karena kesempatan menjadi pemain U17 PERSIJA masih terbuka untuk saya. tetapi waktu yang berkata tidak untuk saya, walau kini saya bersama teman-teman saya hanya latihan di setiap minggu dan tidak ada lagi kompotisi liga PERSIJA usia 17 kami semua tetap berlatih. Hujan dan panas pun kami lalui begitu juga tahun demi tahun pun berlalu. tahun 2008 pun saya berhenti dari sekolah bola dan fokus untuk UN SMP dan ketika saya lulus SMP saya melanjukan sekolah Kejuruan di jakarta selatan.
Ketika saya masuk sekolah SMK saya masuk eskul Futsal dan ini adalah awal saya untuk memulai kembali sekolah sepak bola di sekolah yang berbeda. saya masuk sekolah sepak bola ragunan pada tahun 2009. disana saya hanya belatih selama 6 bulan saja semejak itu saya berhenti lagi karena telalu banyak persaingan yang sangat sulit untuk saya masuk ke tim utama. waktu pun perlahan berlalu dan berlau.
tahun 2011 saya akhirnya kembali lagi ketempat impian dimasa kecil itu, di MAESA akhirnya saya kembali lagi berlatih dan impian itu terbuka kembali, perlahan saya masuk tim utama dan bersaing dengan sehat disana, pelatih pun berbeda kini saya dilatih salah satu mantan pemain PERSIJA era 90an, namanya om daniel. disana saya berlatih dengan keras hingga pada tahun 2013 liga utama PERSIJA kembali ada dan tim kami masuk liga tersebut. kalah menang itu sudah biasa untuk saya.
dari sepak bola saya belajar untuk bisa menerima kekalahan dan belajar untuk bisa saling menerima, ketika tahun 2014 itu tiba ini adalah tahun terakhir bagi saya untuk bisa menentukan masa depan saya di sini atau di Universitas karena pada tahun ini adalah tahun terakhir saya di bangku kulia, hingga suatu saat itu tiba tepat bulan september saya wisuda saya akhirnya melepas sekolah bola saya dan pergi untuk melanjutkan kulia lagi disalah satu sekolah tinggi teknik di jakarta.
sejak tahun 2006 sampai tahun 2014 selama delapan tahun tidak ada satu pun medali yang saya dapatkan. karena sangat sulitnya untuk jadi pemain bola di tanah air ini, masalah selalu ada dari iduk organisani PSSI yang berdapak untuk sepak bola Indonesia dan termasuk saya.. dan itu lah yang membuat saya harus berhenti menjadi pemain bola.
Sebelum saya gantung sepatu pada bulan juni saya mendapatkan medali emas di lomba inovasi di thailand pada tahun 2014 dan ini adalah hadiah untuk saya yang sejak delapan tahun menjadi pemain bola tidak ada satu pun medali yang saya dapatkan. dan dari sepak bola saya belajar banyak dari sana, dan pel;ajaran yang membekas hingga sekarang adalah ketenangan.
ini adalah kisa nyata kehidupan saya, dan tetaplah bermimpi walau kegagalan selalu ada di depan mata. tapi ingat sedikit apapun kerja keras mu pasti ada hasil yang akan kamu dapatkan suatu saat nanti, tetap semangat untuk pemuda-pemuda harapan bangsa...



Comments