top of page

Kekuatan Doa

  • Oct 11, 2017
  • 4 min read

Hay nama saya Muhammad Budiman, ini cerita special perjalanan tetang saya dan percintaan saya, mungkin hanya seseorang yang saya tunggu yang akan membaca cerita tetang saya. Saya akan mulai dari diri saya terlebih dahulu. Sejak kecil hingga sekarang saya tak pernah mau tuk berpacaran, mungkin karena seseorang wanita di samping saya, yaitu ibu saya, dia adalah surga saya dan doa-doa saya hingga saya seperti sekarang, mungkin itu sebabnya. Tetapi bukan berarti saya tak punya cerita tentang percitaan saya. Saya mulai dari seseorang bernama “T.F” maaf tak ingin menyebutkan nama lengkapnya dan begitu juga semua wanita yang ada di dalam perjalan percintaan saya. Dia adalah seseorang yang sangat dekat sejak saya kecil hingga kita bertemu kembali satu kampus yang sama dalam almamater hinjau. Dia bagi saya adalah wanita yang sangat baik sekali hingga saya dan dia saling mengabiskan waktu berdua dengannya. Mungkin saya sampai saat ini tak sangup tuk berkata kepadanya, tetapi mungkin hanya doa yang menjawabnya. Kemudian “A.A” saya tak berharap lebih tuk wanita ini, tetapi saya pernah berkata jujur kepada dia, mungkin saat waktu kita benar-benar sendiri mungkin rasa itu kembali datang. Wanita ini sangat baik, dia rela membantu saya mengabiskan proses di dalam sebuah organisasi yang saya pimpin waktu itu. Mungkin hanya rasa tampa berharap lebih itu yang pantas dengan judul ini, mungkin sekarang dia baik-baik saja dengan seseorang lelaki yang dari dulu pernah bersama dengan dia. Mungkin saya lupa nama pajang wanita ini “D” adalah wanita sangat baik sekali, tetapi mungkin prosesnya sangat cepat yang kita lalui bersama, mungkin jika waktu itu terulang kembali, mungkin dia adalah jawaban dari doa-doa saya, sayang ya waktu itu terlalu cepat, hingga kini dia pergi jauh dari kota ini. Kemudian pada saat saya mendapatkan kabar duka, saya tak sangup melihat wanita ini terus bersedih. Mungkin itu awalnya. Walau sudah saling mengenal satu-sama lain mungkin tidak sulit tuk kita bersama, tetapi ketika saya berbicara hal yang sama dengan apa yang kau rasa, mungkin itu takdirnya tuk kita bisa menikah. Tetapi ketika doa yang berbicara, hanya ada kata maaf dari saya. Karena saya tau kan ada seseorang yang lebih baik dari saya akan datang tuk hidup bersama mu. Bukan berarti saya akan pergi tuk meninggalkan mu selamanya, saya masih ada di samping mu tuk menjaga mu. Walau kini kau telah bersamanya. Tuk wanita yang sangat baik “E.I.P” mungkin ini yang terakhir kalinya saya kan jatuh hati dengan seseorang yang akan saya lamar tuk hidup bersama saya, dia adalah wanita “K.A” saat itu saya niat tuk melamar dia, saya rela tuk pergi jauh untuk menemuinya, dia wanita yang saya selalu perhatikan di dalam diam saya, mungkin dia juga berharap, tetapi sampai saat ini saya tak bisa. Saya hanya berdoa tuk wanita ini, semonga firasa saya tuk dia kan lebih baik, karena saya tau kau mengharapkan seseorang yang lain, selain saya. Mungkin saya bisa tuk bersama dengan nya. Menjadi sahabat tuk mendengar mimpi mu suatu saat nanti, seperti tulisan yang saya tulis di buku itu, buku yang saya berikan sebelum pulang. Dia...dia tak saya sangkah tuk datang terlalu cepat, mungkin dia menggingatkan saya akan mimpi saya dan kebaikan. Ketika malam itu datang, sebenarnnya cerita sebelum ini lah sebabnya, bukan tuk menolak wanita yang sebenarnya sudah saya kenal dari dulu. Tetapi karena dia datang dalam doa saya dan firasa saya sejak lama bertahun-tahun yang lalu. Mengapa, karena saya terus berdoa jika dia lah wanita yang saya tunggu-tunggu itu datang, mungkin buka karena saya jatuh hati dengan wajah mu, karena mungkin tuhan menitipkan kamu ke saya tuk menjaga mu. Sudah terlalu lama saya menunggu, tetapi kenapa kamu yang datang saat saya benar-benar ingin melamar seorang “K.A” mungkin jika bukan karena kamu datang, mungkin saya sudah menikahinnya. Tetapi saya masih menunggu mu hingga 21 Oktober 2017 Bukan karena saya tak mau menunggu mu sangat lama, karena mungkin kamu datang saat doa-doa itu terus saya ucapkan. Kita tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi firasat lah yang sudah mengenal mu sangat lama. Maaf kan saya jika saya menulis nama lengkap mu di sini, mungkin ini perjalanan percintaan terakhir saya. Mungkin jika kamu lah yang akan saya nikahkan suatu saat nanti jika benar-benar kamu datang sebelum 21 Oktober 2017. Rizkyta Ananda Putri...sekali lagi saya minta maaf dengan mu...bukan karena saya mengejar-kerja mu karena paras wajah canti mu, bukan...tetapi karena doa dan tanda-tanda dari tuhan yang membuat firasat saya kuat terhadap mu. Kini saya sedang menyelesaikan buku saya sendiri, karena kamu mungkin datang tuk mengingatkan saya terhadap mimpi saya. Ia sejak dulu saya mau membuat buku ini, tetapi selalu saya tunggu hingga tahun 2020 itu selesai. Mengapa, karena mimpi besar saya. Tahun itu lah terakhir kalinya saya mati-matian tuk bermimpi agar saya bisa belajar ke jerman, rusia atau jepang. Tetapi sekali lagi saya minta maaf, mungkin jika tadir ini tidak bisa mempertemukan kita tuk bersama. Mungkin ini adalah cerita tetang saya, semonga suatu saat jika kita tak bisa tuk bertemu, ijinkan kejujuran dan doa ini yang berbicara tetang mu... Mungkin itu lah perjalanan tetang percitaan saya, mungkin saya belum pantas menjaga wanita lain, selain ibu saya sendiri. Mungkin ada takdir lain yang akan berbicara. Saya minta maaf tuk semua wanita yang pernah ada di dalam perjalanan hidup saya. Ijinkan saya tuk berbagi cerita tetang kejujuran+kesabaran=senyuman Muhammad Budiman 18.55 Jakarta, 11 Oktober 2017 


 
 
 

Comments


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
bottom of page